Meskipun bencana besar menimpa hampir seluruh aspek kehidupan di Jalur Gaza akibat agresi brutal Israel, banyak dampak dan efeknya yang masih belum sepenuhnya diketahui karena sebagian besar wilayah Gaza, terutama di utara, timur, dan kota Rafah, masih berada di bawah kendali Israel, berbagai sisi kehidupan perlahan mulai kembali normal, atau mendekati kondisi normal.
Lebih dari tiga setengah minggu setelah gencatan senjata, Israel masih menahan masuknya bahan-bahan bantuan yang dijanjikan dalam perjanjian gencatan senjata, termasuk suplai hunian sementara seperti tenda dan rumah prefab, serta alat berat seperti crane, buldoser, dan truk untuk membersihkan reruntuhan dan membuka jalan. Meski begitu, rakyat Gaza yang kelelahan setelah perang genosida yang menghancurkan hampir semuanya, bersama pemerintah lokal dengan kapasitas terbatas, serta beberapa lembaga internasional yang kegiatannya dibatasi, melakukan upaya luar biasa untuk meringankan penderitaan warga dan memungkinkan mereka kembali menjalani sebagian kehidupan normal yang sebelumnya hancur akibat kejahatan Israel.
Di Gaza, seluruh jalan dan gang, atau sisa-sisanya, kini tampak seperti bengkel yang tidak pernah berhenti bekerja. Aktivitas membersihkan reruntuhan, membuka jalan, memperbaiki toko, dan menghubungkan jaringan air dimulai sejak pagi hari, meskipun Israel masih melakukan operasi penghancuran di dekat “garis kuning”. Semua ini dilakukan meski kemampuan lokal terbatas dan bahan baku yang diperlukan untuk perbaikan masih dicegah masuk oleh Israel.
Beberapa industri lokal, termasuk pembuatan pakaian, sepatu, makanan, dan manisan, serta restoran populer di kota dan kamp Gaza, sudah mulai beroperasi kembali, meski terbatas di area yang mengalami kehancuran parah. Di wilayah yang lebih sedikit terkena dampak, seperti kawasan Rimal di pusat Kota Gaza dan kota-kota serta kamp di wilayah tengah seperti Deir al-Balah, Nuseirat, dan Bureij, kehidupan mulai berjalan normal hingga lebih dari 80 persen.
Sektor kesehatan juga menunjukkan aktivitas signifikan, dengan dibukanya sejumlah pos dan pusat medis untuk meringankan tekanan pada rumah sakit yang selama perang sibuk merawat ratusan korban setiap hari, hingga menunda pelayanan penyakit kronis, operasi rutin, serta perawatan pasien ginjal, kanker, dan penyakit berat lainnya.
Di sektor pendidikan, yang sempat terhenti total akibat agresi Israel dan kehancuran lebih dari 95% sekolah, universitas, dan perguruan tinggi—bangunan yang tersisa kini menjadi tempat penampungan bagi ratusan ribu warga yang kehilangan rumah—terlihat upaya mendirikan pusat pendidikan sementara, khususnya untuk siswa SD yang paling rentan. Beberapa pusat sudah mulai siap menggelar pembelajaran tatap muka maupun daring, meski masih menghadapi kendala seperti pemadaman listrik dan jaringan internet yang lemah.
Banyak bidang lain menunjukkan perubahan signifikan, menandakan keinginan kuat rakyat Gaza untuk mengatasi segala kesulitan yang diciptakan Israel, dengan tekad baja yang membuat hal yang tampak mustahil menjadi mungkin.
Meski begitu, banyak kekhawatiran masih membebani warga Gaza. Salah satunya adalah kemungkinan runtuhnya perjanjian gencatan senjata setelah penyerahan jenazah tentara Israel yang ditahan kelompok perlawanan Gaza. Pengalaman sebelumnya, terutama setelah runtuhnya gencatan 19 Januari, membuat warga takut Israel akan mengingkari perjanjian, mengingat pelanggaran yang terus terjadi hingga kini.
Kekhawatiran ini membuat ratusan keluarga enggan kembali ke utara Gaza sampai tahap pertama perjanjian selesai dan mereka dapat menilai situasi. Hal yang sama berlaku bagi pemilik pabrik besar, yang ragu untuk membangun ulang atau memulai produksi hingga kepastian keamanan tercapai.
Isu lain yang menjadi perhatian warga adalah rekonstruksi rumah, fasilitas, lahan pertanian, dan mata pencaharian yang hancur. Hingga saat ini, belum ada penilaian kerusakan resmi, kompensasi belum diberikan, dan bahan bangunan penting belum masuk ke Gaza. Bahan yang tersimpan sebelum perang banyak yang rusak, dijual dengan harga tinggi, dan tak terjangkau sebagian besar warga yang membutuhkan.
Masalah ketiga yang mengkhawatirkan sebagian besar penduduk adalah belum terbentuknya komite sementara untuk mengelola urusan rekonstruksi, kompensasi, dan penguatan perjanjian gencatan senjata, termasuk mengatur urusan internal Palestina yang masih dibayangi oleh perpecahan selama 18 tahun.
Meskipun demikian, rakyat Gaza tetap ingin hidup normal di tanah mereka, dan tekad itu membuat mereka menghadapi krisis dengan kesabaran, harapan, dan keyakinan. Mereka terus berjuang untuk mencapai hak dan tujuan yang sah, meski harus berkorban besar.
Sumber opini: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



