Angkatan Udara Israel mengumumkan peluncuran serangan udara sepihak yang membidik sejumlah target militer Iran di wilayah barat dan tengah negara tersebut pada Senin dini hari, 8 Juni 2026. Merespons serangan ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi bahwa musuh Zionis menggunakan rudal balistik yang diluncurkan dari pesawat tempur (air-launched ballistic missiles) untuk menghantam titik-titik di dalam wilayah kedaulatan Republik Islam Iran. Berdasarkan laporan perdana televisi resmi pemerintah Iran, tidak ada korban luka maupun korban jiwa yang tercatat akibat agresi militer Israel yang menyasar Provinsi Isfahan tersebut.
Kendati tidak ada korban jiwa di pihak Iran, media Israel melaporkan bahwa seluruh wilayah Israel kini berada dalam kondisi siaga satu untuk mengantisipasi potensi balasan yang jauh lebih masif dari Teheran. Channel 12 mengindikasikan bahwa level ancaman dan kewaspadaan tertinggi telah diaktifkan di Tel Aviv dan wilayah Palestina bagian selatan. Situasi keamanan kian memanas setelah media Israel mengonfirmasi adanya deteksi peluncuran satu rudal balistik dari wilayah Yaman yang mengarah langsung ke target-target di dalam wilayah Israel.
Menanggapi eskalasi yang meluas ini, Komando Front Domestik Israel mengeluarkan instruksi darurat yang meminta para pemukim ilegal untuk tetap berada di dekat ruang perlindungan bawah tanah. Otoritas setempat juga memperbarui pemberlakuan pembatasan darurat nasional serta memperpanjang penutupan seluruh lembaga pendidikan dan sekolah. Di Washington, situs berita Axios mengutip pernyataan seorang pejabat tinggi Amerika Serikat yang mencoba meredam situasi dengan mengeklaim bahwa skala serangan udara Israel tersebut masih “relatif terbatas”.
Namun, penilaian berbeda datang dari internal militer Israel. Mantan petinggi militer Kolonel (Purn.) Uzi Dayan menyatakan kepada Channel 14 bahwa pertempuran ini masih berada dalam tahap sangat awal. Saluran berita Channel 14 juga mengutip sumber senior yang menegaskan bahwa Israel saat ini baru saja memulai sebuah pertempuran yang diprediksi akan memakan waktu setidaknya beberapa hari ke depan untuk terus saling serang dengan militer Iran.
Agresi udara Israel ke Isfahan ini merupakan tindakan nekat yang diluncurkan tepat setelah Iran melakukan pembalasan rudal multi-tahap pada Minggu malam, sebagai respons atas pengeboman Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon. Langkah ofensif Tel Aviv ini tetap dilakukan meskipun sebelumnya sempat beredar bocoran dokumen dari media Amerika Serikat dan Israel yang menyebutkan adanya permintaan langsung dari Washington agar Israel menahan diri dan tidak merespons serangan Iran demi memberikan ruang bagi berjalannya proses diplomasi.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Jerusalem Post



