Dewan Keamanan Rusia mengeluarkan peringatan keras bahwa Amerika Serikat dan Israel kemungkinan menggunakan negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran hanya sebagai kedok untuk mempersiapkan operasi darat besar-besaran. Pihak Rusia meragukan kepatuhan ketat kedua negara tersebut terhadap ketentuan gencatan senjata yang disepakati pada 7-8 April 2026 lalu. Valentina Matviyenko, Ketua Dewan Federasi Rusia, menegaskan bahwa Washington dan Tel Aviv telah melakukan “kesalahan geopolitik yang fatal” dengan menyulut perang di Timur Tengah yang kini telah memasuki hari ke-40 sejak agresi dimulai pada 28 Februari.
Di tengah kecurigaan Rusia, Presiden Donald Trump justru menyatakan kepada New York Post bahwa pembicaraan kemungkinan akan berlanjut di Pakistan dalam dua hari ke depan. Meskipun Trump mengklaim para pemimpin Eropa ingin membantu membuka Selat Hormuz, ia mengejek mereka sebagai “macan kertas” yang tidak tahu harus berbuat apa. Sementara itu, pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa diskusi mengenai putaran pembicaraan selanjutnya sedang berjalan, meski tanggal pastinya belum ditetapkan setelah maraton negosiasi selama 21 jam di Islamabad akhir pekan lalu berakhir buntu.
Ketegangan diplomatik semakin memanas setelah Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref melontarkan kritik tajam terkait hubungan istimewa antara Washington dan Tel Aviv. Merujuk pada laporan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance memberikan pengarahan harian kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai detail negosiasi, Aref menyebut fenomena ini sebagai “penghinaan struktural” bagi Amerika Serikat. Ia mempertanyakan apakah rakyat Amerika menyadari bahwa Gedung Putih kini seolah-olah telah menjadi “cabang pelaporan” bagi rezim lain, di mana kepentingan utama Trump adalah penghapusan seluruh material nuklir yang diperkaya dari Iran.
Meskipun berada di bawah ancaman eskalasi militer, Rusia mencatat bahwa otoritas Iran tetap memegang kendali penuh atas situasi internal mereka. Institusi negara, termasuk militer Iran, dilaporkan tetap beroperasi dengan efisiensi tinggi di tengah masa gencatan senjata dua minggu yang sangat rapuh ini. Teheran tetap waspada terhadap tuntutan Amerika yang dianggap berlebihan, sembari bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika jalur diplomasi di Islamabad benar-benar hanya digunakan sebagai pengalih perhatian untuk agresi yang lebih besar.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Breaking the News



