Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras pada Rabu, 1 April 2026, dengan menyatakan bahwa Washington akan menggempur Iran dengan sangat hebat dalam waktu dua hingga tiga minggu ke depan guna mengembalikan negara tersebut ke “Zaman Batu”. Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa militer Amerika Serikat saat ini sedang dalam proses menghancurkan platform rudal Iran dan menyebutkan bahwa hanya sedikit yang tersisa. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada angkatan bersenjata Amerika Serikat atas keberhasilan operasi yang ia sebut sebagai pekerjaan luar biasa di Venezuela dan Iran. Trump menegaskan kemandirian energi negaranya dari kawasan Timur Tengah dan menyatakan bahwa kehadiran Amerika Serikat di wilayah tersebut hanyalah untuk membantu sekutu. Ia menambahkan bahwa bagian tersulit dari misi ini telah selesai dan kini tugas yang tersisa jauh lebih mudah, sembari menantang pihak mana pun yang ingin mengekspor minyak untuk melewati Selat Hormuz secara mandiri pada Rabu, 1 April 2026.
Mengenai kebijakan nuklir, Trump menjelaskan bahwa pembatalan perjanjian nuklir masa lalu dilakukan untuk memperbaiki kesalahan presiden sebelumnya dan memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir. Ia mengeklaim bahwa fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan sepenuhnya dan tujuan strategis Amerika Serikat untuk membongkar kemampuan Iran dalam mengancam Washington hampir tercapai. Menanggapi kekhawatiran warga Amerika Serikat terkait kenaikan harga bahan bakar, Trump meyakinkan bahwa lonjakan harga minyak tersebut hanya akan berlangsung singkat pada Rabu, 1 April 2026. Ia berpendapat bahwa di bawah kepemimpinannya, Amerika Serikat telah bangkit menjadi negara produsen minyak dan gas nomor satu di dunia dalam kurun waktu satu tahun. Trump menyimpulkan bahwa ancaman Iran di Timur Tengah sudah tidak ada lagi dan pihaknya akan menyelesaikan tugas militer ini dengan sangat cepat karena ia menganggap kelompok penguasa baru di Iran saat ini kurang radikal.
Namun, klaim keberhasilan militer tersebut berbanding terbalik dengan laporan yang diungkap oleh situs berita Amerika Serikat, The Intercept, pada Rabu, 1 April 2026. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sekitar 750 tentara Amerika Serikat telah menjadi korban, baik terluka maupun tewas, di Timur Tengah sejak Oktober 2023. The Intercept menyebutkan adanya dugaan upaya penutupan informasi oleh Pentagon dan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang memberikan angka korban rendah serta tidak mutakhir. Meskipun data resmi tidak merinci jumlah kematian sejak dimulainya perang melawan Iran, estimasi menunjukkan sedikitnya 15 tentara telah tewas. Angka ini belum mencakup lebih dari 200 pelaut yang terluka akibat insiden kebakaran di atas kapal induk Gerald Ford sebelum kapal tersebut ditarik ke Yunani untuk perbaikan. Seorang pejabat pertahanan yang dikutip dalam laporan tersebut mengonfirmasi adanya penyembunyian kerugian militer agar masalah ini tidak menjadi sorotan publik.
Di sisi lain, Iran terus menegaskan hak sahnya untuk membela diri dengan menargetkan pangkalan militer, lokasi peluncuran rudal di pelabuhan, dermaga, serta bunker pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut. Serangan balasan Iran ini dilakukan sebagai respons atas agresi bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah kedaulatan Iran serta situs-situs pendudukan di Palestina yang berlangsung sejak 28 Februari. Kondisi di lapangan menunjukkan adanya dinamika pertempuran yang terus berkembang, di mana sumber keamanan Amerika Serikat mengakui kemampuan Iran dalam beradaptasi dan mengarahkan serangan secara presisi ke titik-titik lemah pertahanan Washington di kawasan, termasuk sistem pertahanan udara yang dirancang untuk melindungi aset dan personel Amerika Serikat.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Times of Israel



