Skip to main content

Perlawanan Islam di Lebanon atau Hizbullah mengumumkan serangkaian operasi militer besar-besaran yang menargetkan konsentrasi tentara, kendaraan tempur, serta infrastruktur vital Israel pada Rabu, 1 April 2026 malam. Langkah ini ditegaskan sebagai upaya pembelaan terhadap kedaulatan Lebanon dan rakyatnya guna merespons agresi zionis yang terus berlanjut. Dalam pernyataan resminya, Hizbullah melaporkan telah menghujani wilayah Kiryat Ata di timur kota Haifa yang diduduki dengan salvo roket yang menyasar infrastruktur militer musuh. Secara terpisah, pasukan perlawanan juga meluncurkan serangan roket ke arah pemukiman Al-Mutla dan Al-Malikiyah, serta menargetkan kumpulan tentara di wilayah Ainata, tepatnya di area Al-Sadr, ketinggian Ghadmatha, dan bukit Friz di Lebanon Selatan. Serangan berlanjut hingga tengah malam dengan penggunaan artileri di ketinggian Jneijel, kota Al-Qantara, serta gempuran roket di wilayah Rashaf yang menyasar posisi pasukan pendudukan.

Di saat yang sama, Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan rudal klaster yang menjangkau wilayah tengah dan utara Palestina yang diduduki, termasuk hingga wilayah Al-Quds (Yerusalem). Media massa di Israel melaporkan adanya kerusakan serius dan jatuhnya korban luka akibat gempuran tersebut. Layanan darurat Magen David Adom mengonfirmasi sedikitnya lima orang terluka di Bnei Brak, sebelah timur Tel Aviv, akibat hantaman rudal fragmentasi yang merusak bangunan, kendaraan, serta infrastruktur air. Tim penyelamat Israel dilaporkan harus menyisir 11 lokasi berbeda yang menjadi titik jatuhnya fragmen rudal klaster Iran. Ledakan besar terdengar di pusat wilayah pendudukan setelah rudal-rudal tersebut diluncurkan secara simultan dari Iran, sementara Hizbullah melakukan pengeboman di wilayah utara secara paralel untuk mengalihkan konsentrasi pertahanan musuh.

Saluran 14 Israel mengakui bahwa serangan gabungan antara Iran dan Hizbullah merupakan upaya nyata untuk menantang dan melumpuhkan sistem pertahanan udara Israel melalui taktik serangan yang terkoordinasi secara presisi. Operasi ini merupakan bagian dari gelombang besar “True Promise 4” yang diluncurkan oleh Republik Islam Iran sebagai respons defensif atas agresi Amerika Serikat dan Israel. Teheran terus menargetkan situs militer, fasilitas vital, serta lokasi persembunyian tentara pendudukan dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan guna menegakkan kedaulatan nasionalnya. Seluruh operasi ini berjalan di bawah arahan strategis Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, yang menegaskan bahwa setiap jengkal tanah Iran dan kepentingan mitranya akan dipertahankan dengan segala kekuatan yang tersedia dari agresi brutal pihak asing.

Hingga Kamis, 2 April 2026, Hizbullah tetap siaga penuh di perbatasan untuk menghadapi setiap upaya infiltrasi tentara pendudukan ke Lebanon Selatan. Keteguhan perlawanan ini diklaim telah merebut inisiatif strategis di medan tempur, membuat pihak Amerika Serikat dan Israel terjebak dalam posisi reaktif. Dengan arsenal yang semakin maju dan koordinasi yang semakin solid di seluruh front perlawanan, Teheran dan sekutunya menyatakan akan terus meningkatkan skala operasi militer hingga pencegahan terhadap agresi musuh tercapai sepenuhnya. Dinamika di lapangan menunjukkan bahwa sistem peringatan dan pertahanan Israel mengalami tekanan luar biasa akibat serangan simultan dari berbagai arah yang terus berlanjut.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Anadolu Agency