Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syaikh Naim Qassem, kembali menegaskan bahwa hukum internasional mengakui Israel sebagai entitas penjajah. Dalam pidatonya di acara peringatan yang diadakan pada hari Selasa, 10 Februari 2026, di kota Brital, wilayah Bekaa, Syaikh Naim Qassem mengecam kekuatan hegemoni global yang terus berupaya melegalkan pendudukan dan merampas tanah Palestina. Beliau menekankan bahwa terlepas dari kapabilitas militer yang besar serta dukungan luas dari komunitas internasional, posisi Israel saat ini justru berada pada titik terlemah yang pernah ada. Hal ini dibuktikan dengan ketidakmampuan pihak penjajah untuk mencapai tujuan mereka di berbagai medan, mulai dari Gaza, Lebanon, Iran, hingga Yaman.
Syaikh Naim Qassem menyoroti fakta bahwa entitas tersebut kini sepenuhnya dikendalikan oleh Amerika Serikat dan telah kehilangan kemandiriannya, sebuah realitas yang bahkan mulai diperdebatkan di dalam internal Israel sendiri. Terkait situasi di Lebanon, Syaikh Naim Qassem menyatakan komitmen pihak perlawanan untuk memastikan bahwa Israel tetap berada dalam kondisi tidak stabil dan tanpa perbatasan yang pasti. Beliau menjelaskan bahwa ada berbagai strategi untuk mencapai tujuan tersebut, di mana keteguhan hati menjadi komponen utamanya. Meskipun telah menghadapi tantangan luar biasa yang sanggup meruntuhkan gunung sekalipun, Syaikh Naim Qassem menegaskan bahwa pihak perlawanan tetap bertahan dan terus melanjutkan perjuangannya.
Dalam konteks domestik, Syaikh Naim Qassem mengumumkan bahwa Hizbullah telah mengamankan dana kompensasi tempat tinggal selama tiga bulan bagi keluarga yang kehilangan rumah akibat agresi Israel terbaru. Walaupun tanggung jawab tersebut seharusnya berada di tangan negara, Syaikh Naim Qassem menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk tanggung jawab sosial Hizbullah dalam upaya membangun kembali Lebanon. Selain itu, Syaikh Naim Qassem menyatakan bahwa Hizbullah sedang aktif mempersiapkan diri menghadapi pemilihan parlemen mendatang dan mendesak agar pemilu dilaksanakan tepat waktu. Beliau menggarisbawahi peran krusial pihak perlawanan dalam menyelamatkan Lebanon di saat negara dan tentara tidak mampu menjalankan tugas pertahanan tersebut.
Syaikh Naim Qassem juga mendesak para pejabat Lebanon untuk memanfaatkan keahlian pertahanan yang dimiliki oleh pihak perlawanan. Menurut Syaikh Naim Qassem, tidak ada pihak yang boleh menghalangi keberadaan perlawanan di Lebanon karena peran tersebut dijamin oleh konstitusi serta Dokumen Kesepakatan Nasional. Beliau menambahkan bahwa kemerdekaan yang diraih Lebanon, meskipun dalam posisi lemah, merupakan hasil dari sinergi tiga pilar utama yaitu Tentara, Rakyat, dan Perlawanan. Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Naim Qassem juga memberikan penghormatan tinggi kepada Sayyid Hassan Nasrallah sebagai martir besar yang gugur demi menjaga kekuatan Lebanon.
Menutup pidatonya, Syaikh Naim Qassem menyampaikan ucapan selamat kepada rakyat Iran atas peringatan hari jadi Revolusi Islam tahun 1979 yang jatuh pada hari ini, 11 Februari 2026. Syaikh Naim Qassem memuji ketabahan, martabat, dan kemajuan berkelanjutan Iran di bawah kepemimpinan Sayyid Ali Khamenei. Beliau menegaskan keyakinannya bahwa Iran akan selalu meraih kemenangan dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Roya News



