Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan pada hari Selasa, 10 Februari 2026, bahwa kemampuan negaranya untuk tampil kuat di kancah diplomasi internasional sangat bergantung pada dukungan angkatan bersenjata Iran. Dalam pertemuan dengan Panglima Tertinggi Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, beserta jajaran komandan militer lainnya, Abbas Araqchi menyebut kekuatan militer sebagai sumber kebanggaan dan kehormatan bangsa. Menurut Abbas Araqchi, kehadiran diplomasi Iran di kancah global didasarkan pada kekuatan militer yang selama ini berhasil mencegah musuh-musuh negara untuk mengambil opsi militer, dan ia meyakini kekuatan tersebut akan terus menjadi faktor penjera di masa depan.
Abbas Araqchi menjelaskan bahwa pencapaian kepentingan nasional Iran di meja perundingan hanya mungkin terjadi karena adanya ketergantungan pada angkatan bersenjata yang telah melindungi kedaulatan darat, udara, dan laut Republik Islam Iran dari segala bentuk agresi asing. Ia menekankan bahwa saat ini, kerja lapangan militer dan diplomasi berada dalam satu parit yang sama dan saling melengkapi. Menurut Abbas Araqchi, persatuan antara kekuatan tempur dan kekuatan negosiasi ini adalah kunci utama untuk membela kepentingan nasional serta hak-hak rakyat Iran dalam kampanye diplomatik yang sedang berlangsung.
Dalam konteks perundingan internasional, Abbas Araqchi mengungkapkan bahwa Iran kini telah memasuki fase negosiasi yang baru. Ia menilai fase ini merupakan hasil nyata dari perlawanan rakyat dan angkatan bersenjata Iran selama satu tahun penuh dalam menghadapi segala bentuk tekanan, ancaman, serta perang yang melanda. Abbas Araqchi menegaskan bahwa ketangguhan dan keteguhan hati rakyat Iran adalah dukungan paling krusial bagi militer maupun diplomat agar mereka mampu membela kepentingan negara dengan posisi tawar yang kuat.
Panglima Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa militer dalam kondisi siap sepenuhnya untuk membela kemerdekaan, integritas wilayah, serta hak-hak rakyat Iran. Ia menunjukkan bahwa koordinasi antara angkatan bersenjata dan perangkat kebijakan luar negeri negara terjalin sangat erat. Hal ini diperkuat dengan hasil sidang tertutup parlemen Iran pada hari Senin sebelumnya, yang menegaskan bahwa diplomasi dan kerja militer di lapangan adalah dua sisi dari mata uang yang sama dalam melayani kekuatan negara.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Global Times



