Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa pihak Amerika Serikat telah menyita dan mengambil alih kapal-kapal tanker minyak Venezuela, seraya mencatat bahwa komoditas tersebut akan diproses di berbagai kilang minyak milik Amerika Serikat. Dalam sebuah wawancara dengan New York Post pada hari Senin, 26 Januari 2026, Donald Trump menyatakan secara terbuka bahwa pihak Venezuela tidak lagi memiliki kendali atas minyak tersebut karena Amerika Serikat telah mengambil alih alirannya. Ia menambahkan bahwa proses pemurnian minyak hasil sitaan tersebut sedang berlangsung di beberapa lokasi berbeda, termasuk di Houston, Texas.
Pernyataan tegas ini muncul setelah militer Amerika Serikat menyita tujuh kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela sebagai bagian dari kampanye selama sebulan untuk mengendalikan arus keluar minyak dari Caracas. Sebelumnya, seorang pejabat Amerika Serikat melaporkan bahwa Presiden Donald Trump mengizinkan minyak Venezuela dijual ke Tiongkok, namun dengan syarat tidak menggunakan harga diskon sebagaimana yang ditetapkan oleh pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Hal ini menunjukkan upaya Amerika Serikat untuk mengontrol mekanisme pasar dan harga minyak dari negara Amerika Selatan tersebut di kancah internasional.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bisnett menyatakan bahwa Tiongkok telah kehilangan akses langsung terhadap minyak Venezuela, meskipun negara tersebut masih melakukan pembelian minyak dari Rusia dan Iran. Sementara itu, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengonfirmasi bahwa Washington telah bersiap untuk menjual minyak Venezuela tersebut pada kisaran harga 45 dolar AS per barel. Sebelumnya, Donald Trump sempat menyatakan bahwa otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat untuk dijual dengan harga pasar.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Jerusalem Post



