Skip to main content

Sumber lapangan di timur laut Suriah mengindikasikan bahwa langkah-langkah militer Amerika Serikat (AS) belakangan ini kemungkinan berkaitan dengan perkembangan militer yang dikhawatirkan Washington akan terjadi di kawasan.

Menurut laporan Al-Mayadeen, terdapat kontradiksi yang mencolok antara pernyataan resmi AS yang menegaskan pengurangan pasukan di Suriah dengan pengiriman besar-besaran peralatan dan pasukan baru ke pangkalan-pangkalan di wilayah timur Eufrat selama beberapa pekan terakhir. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai arah kebijakan Washington terhadap Suriah pasca-runtuhnya rezim Presiden Bashar al-Assad.

Pada awal tahun ini, Departemen Pertahanan AS mengumumkan niatnya untuk mengurangi setengah kekuatan militernya di Suriah sebelum akhir tahun 2025, serta menutup sejumlah pangkalan utama di timur negara itu dengan alasan menurunnya ancaman ISIS. Pengumuman tersebut diikuti dengan aktivitas intens pemindahan peralatan dan logistik dari Suriah menuju Irak melalui jalur darat, dalam kerangka rencana pengurangan pengaruh militer AS di kawasan.

Namun, aktivitas itu tiba-tiba berhenti empat bulan lalu. Sumber-sumber Kurdi mengungkapkan kepada Al-Mayadeen Net bahwa keputusan penundaan penarikan pasukan diambil setelah muncul perkembangan politik dan keamanan yang dinilai rapuh di timur laut Suriah. Aktivitas kelompok ISIS kembali meningkat dengan sejumlah serangan di berbagai titik di timur negara itu.

Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa salah satu alasan utama AS menunda penarikan pasukan adalah kegagalan pemerintahan transisi Suriah memperluas kontrolnya di seluruh wilayah, meningkatnya gejolak internal — termasuk kerusuhan di pesisir Suriah pada Maret lalu dan di kota Suwaida pada Juli — serta bentrokan berulang antara pasukan pemerintah dan pasukan Syrian Democratic Forces (SDF) di garis perbatasan timur Eufrat. Menurut sumber itu, Washington menilai kondisi ini berpotensi dimanfaatkan ISIS untuk menghidupkan kembali jaringannya.

Selain itu, penundaan juga dikaitkan dengan keinginan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menuntaskan “Perjanjian 10 Maret” yang mencakup integrasi SDF ke dalam pemerintahan baru Suriah dan penyatuan upaya memerangi ISIS.

Sejak pertengahan September, aktivitas di pangkalan-pangkalan AS di timur Eufrat meningkat kembali, kali ini melalui pengerahan senjata berat, sistem pertahanan udara, peralatan elektronik canggih, serta pasukan tambahan yang ditempatkan di Deir ez-Zor, Hasakah, dan Raqqa.

Beberapa pekan terakhir juga menyaksikan latihan militer besar-besaran AS menggunakan pesawat tempur dan helikopter, termasuk latihan tembak langsung untuk meningkatkan kesiapan tempur. Data lapangan menunjukkan bahwa sekitar 100 truk logistik dan peralatan militer baru masuk dari wilayah Kurdistan Irak melalui perbatasan Al-Walid menuju pangkalan-pangkalan di timur laut Suriah. Selain itu, lebih dari sepuluh pesawat kargo dilaporkan mendarat di bandara militer di provinsi Hasakah membawa peralatan tambahan.

Tiga pangkalan utama di Hasakah — Tal Beydar, Kharab al-Jir, dan kompleks perumahan lama Jabsah Fields di kota al-Shaddadi — kini menjadi pusat mobilisasi AS terbesar sejak jatuhnya rezim Assad. Ketiganya berfungsi sebagai titik penghubung militer utama di timur Suriah dan jalur pasokan logistik untuk pangkalan lain di Deir ez-Zor dan Raqqa.

Sejak awal Oktober, pangkalan al-Shaddadi menjadi lokasi latihan intensif yang meniru skenario serangan udara terhadap pangkalan. Radar dan sistem pertahanan diaktifkan kembali, penjagaan diperketat, dan patroli bersama dilakukan antara pasukan AS dan SDF di desa-desa sekitar.

Dalam konteks yang sama, sumber lapangan mengonfirmasi bahwa delegasi keamanan AS baru-baru ini mengunjungi pangkalan Tal Beydar untuk meninjau kesiapan sistem pertahanan udara dan komunikasi, kemudian bergerak ke Kharab al-Jir di perbatasan Suriah–Irak untuk mengawasi pemasangan radar baru dan sistem pengawasan tambahan.

Menurut sumber-sumber yang dikutip Al-Mayadeen, penguatan militer AS ini kemungkinan besar terkait dengan kekhawatiran Washington terhadap beberapa kemungkinan perkembangan di lapangan, termasuk pecahnya konflik antara pasukan pemerintah Suriah dan SDF, atau operasi militer besar Turki terhadap kelompok Kurdi di dalam wilayah Suriah.

Selain itu, pihak militer AS juga dilaporkan mewaspadai kemungkinan serangan mendadak oleh sel-sel ISIS terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di Suriah dalam waktu dekat — sebuah skenario yang membuat Washington menahan diri dari menarik pasukan sepenuhnya dari negara itu.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: The Hamilton Spectator